Fikri, Relawan Muda yang Tak Menyerah Meski Kehilangan Rumah
Rabu, 26 November 2025, Indonesia dilanda bencana yang cukup parah. Banjir besar terjadi di 3 provinsi sekaligus, hampir 1 juta warga mengungsi, dan memakan ratusan korban jiwa. Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah usai dihantam banjir bandang.
Pada kondisi darurat seperti ini, Sekolah Relawan kembali bergerak cepat seperti biasanya. Sekolah Relawan selalu menjadi salah satu yang paling sigap turun lapangan dan update kondisi di sana. Begitu laporan banjir besar di Aceh dan Sumatra mencuat, Sekolah Relawan langsung mengirim tim ke lokasi terdampak. Relawan lokal yang berada di Aceh langsung memberi laporan mengenai kondisi disana.
Fikri salah satu relawan Sekolah Rerlawan yang menjadi salah satu orang pertama yang melaporkan kondisi kritis di daerahnya. Sebagai relawan lokal Sekolah Relawan, ia bergerak cepat mengabarkan situasi banjir yang saat itu mulai meluas dan menutup akses pemukiman.
Tak lama setelah laporan awal masuk, komunikasi dengan Fikri terputus. Debit air meningkat, jaringan komunikasi lumpuh, dan wilayah tempat tinggalnya berubah menjadi darah terisolir. Tim respon Sekolah Relawan yang berusaha bisa masuk ke daerah terisolir aceh tamiang, barulah kami bertemu Fikri.
Saat berhasil bertemu Fikri, kabar yang dibawanya yaitu rumahnya hancur tersapu banjir. ‘Ketinggian banjirnya rata, tingginya sampai atap rumah ketutup semua,” katanya. Air banjir diperkirakan mencapai 7-8 meter, menenggelamkan seluruh isi rumah dan hampir semua yang ia miliki.
Momen Fikri menunjukkan kondisi rumahnya
Selama menunggu bantuan tiba, Fikri mengungsi ke sebuah ruko yang masih belum selesai dibangun. “Yang penting ada tempat yang bisa ditempati,” ujarnya.
Di tengah kehilangan besar yang ia alami, Fikri membuktikan bahwa kepedulian tidak pernah ikut tenggelam. Ia tetap berada di barisan depan, memastikan warga lain mendapat bantuan lebih dulu sebelum memikirkan dirinya sendiri. Di balik baju relawannya, ada kisah tentang keteguhan, keberanian, dan hati yang tak pernah menyerah bahkan saat hidupnya ikut tersapu banjir.
Penulis: Siti Fauziyah Handayani
Editor: Firda Aulia Ramadanti