Pemulihan Gaza, Perjalanan Panjang Pasca Gencatan Senjata
Ledakan mungkin telah berhenti. Tapi di Gaza, penyerangan belum benar-benar selesai. Bukan karena suara ledakan bom masih terdengar, melainkan karena sisa-sisa penyerangan itu kini melekat di setiap dinding rumah yang runtuh, di setiap tenda pengungsian yang berdiri di pasir dan di hati jutaan yang kehilangan segalanya.
Ribuan warga Gaza mulai kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata, kebanyakan dari mereka sudah tahu apa yang akan mereka temui adalah reruntuhan tembok yang sudah rata tanah.
Menurut laporan BBC 2025, kehancuran di jalur Gaza mencapai 84% dan di beberapa wilayah seperti Gaza City kerusakan mencapai 92%. Lebih dari 60 juta ton puing-puing menutupi kota, bukan hanya beton dan besi, tapi juga sisa-sisa kehidupan yang dulu pernah ada di sana.
Prof. Andreas Krieg, dari King's College London mengatakan "Ini lebih buruk daripada memulai dari awal - di sini Anda tidak memulai dari pasir, Anda memulai dengan puing-puing." (BBC 202).
Air bersih, listrik, sekolah, ladang, semuanya nyaris hilang. UNICEF mencatat, lebih dari 70% fasilitas air bersih dan sanitasi rusak. Gedco, perusahaan listrik Gaza, melaporkan 80 persen jaringan daya rusak. Anak-anak kehilangan ruang belajar 91,8% sekolah memerlukan rekonstruksi total, menurut UNRWA. Semua ini bukan kerusakan fisik semata, tapi juga luka sosial dan psikologis yang akan diwariskan pada generasi berikutnya.
Semua itu tak akan pulih dalam satu hari. RAND Corporation memperkirakan, jika Gaza dibangun dengan cara yang sama seperti pasca serangan 2014 dan 2021, maka butuh hingga 80 tahun lamanya untuk benar-benar kembali seperti semula. Delapan dekade waktu yang bisa melahirkan tiga generasi baru sebelum tanah itu kembali berdiri kokoh.
Tapi di tengah sama keputusan itu, kita tidak boleh berhenti di sini. Bantuan untuk Palestina bukan soal donasi sesaat, ini tentang komitmen jangka panjang, tentang tidak melupakan manusia yang kini harus memulai hidup di atas puing.
Untuk memahami panjangnya jalan menuju pemulihan, kita bisa melihat ke Georgia, negara kecil di kaukasus yang berperang singkat dengan Rusia pada tahun 2008. Perang itu terjadi hanya selama lima hari, namun efek perang bertahan jauh lebih lama. Lebih dari 100.000 orang mengungsi dan sekitar 20 persen wilayah Georgia (Abkhazia dan Ossetia Selatan) masih diduduki hingga hari ini.
Menurut World Bank dan laporan UNHCR, proses rekonstruksi fisik di Georgia baru mencapai stabilitas infrastruktur dasar setelah hampir 10 tahun, sedangkan pemulihan sosial dan ekonomi masih berjalan hingga sekarang.
Jika perang singkat seperti di Georgia saja butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih, bayangkan Gaza wilayah kecil yang hampir rata dengan tanah yang kehilangan bukan hanya bangunan, tapi juga generasinya.
Ketika berita tentang Gaza mulai tak terlihat di layar kita, jangan biarkan empati ikut padam. Mereka masih di sana di antara puing, mencari air bersih, membangun sekolah dari sisa beton, menyalakan lampu dengan generator terakhir.
Mereka tidak butuh belas kasih, mereka butuh keberlanjutan perhatian. Kerena membangun kembali Gaza bukan proyek setahun, tapi perjalanan puluhan tahun. Setiap tangan yang masih mau membantu, sekecil apapun, berarti satu batu lagi yang kembali berdiri di atas tanah yang berantakan itu.
Penulis: Siti Fauziyah Handayani
Editor: Firda Aulia Ramadanti
Dokumentasi: Eyad Baba/ EFP