Ini Alasan Mengapa Kalimantan Wilayah Bebas Gempa

Indonesia dikenal sebagai negara “cincin api” dunia karena dikelilingi ratusan gunung berapi dan jalur patahan aktif. Tapi di antara semua pulau, Kalimantan sering disebut sebagai wilayah paling aman dari gempa bumi. Benarkah Kalimantan benar-benar bebas gempa?


Menurut laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), salah satu alasan utama Kalimantan jarang diguncang gempa besar adalah karena lokasinya yang jauh dari zona subduksi aktif tempat di mana satu lempeng tektonik masuk ke bawah lempeng lain dan memicu gempa besar. Wilayah Kalimantan sebagian besar berada atas lempeng yang relatif stabil, sehingga aktivitas pelepasan energi gempa besar menjadi lebih rendah. 


Meskipun Pulau Kalimantan seringkali disebut sebagai “Pulau Bebas Gempa” karena aktivitas seismik yang relatif rendah dibandingkan wilayah lain di Indonesia, potensi bencana geologi tetap ada. Salah satu struktur geologi yang menjadi fokus perhatian adalah Sesar Tarakan. Sesar ini membuktikan bahwa Kalimantan khususnya di bagian utara, merupakan zona dengan dinamika tektonik yang kompleks dan menyimpan potensi gempa yang signifikan.



Sesar Tarakan merupakan salah satu dari tiga zona sesar utama yang telah teridentifikasi di Pulau Kalimantan, di samping Sesar Mangkalihat dan Sesar Meratus. Secara spesifik, Sesar Tarakan terletak di bagian utara Pulau Kalimantan, membentang dari daratan hingga lepas pantai.


Secara geologi, sesar ini berada di wilayah Cekungan Tarakan, sebuah cekungan yang terletak lebih utara dari Cekungan Kutai. Sesar Tarakan memiliki panjang lebih dari 100 km. Hal ini membuat gempa kerap dirasakan di Kota Tarakan sampai Kabupaten Nunukan.


Kesadaran, Kesiapsiagaan dan Kerelawanan

Pengetahuan mengenai situasi geologi lokal membantu masyarakat memahami kenapa gempa besar jarang terjadi, sehingga tidak panik saat terjadi getaran ringan. Bagi relawan dan komunitas kerelawanan, ini menjadi dasar edukasi yang bisa disampaikan: bahwa di wilayah yang “relatif aman” pun kesiapsiagaan tetap penting. Dengan pemahaman ini, masyarakat Kalimantan bersama relawan bisa membangun budaya tanggap bencana yang sesuai konteks lokal  termasuk mengenali titik aman, merespon gempa kecil, dan mempersiapkan hal-hal dasar.


Memang, Kalimantan memiliki keunggulan dari sisi geologi dalam hal potensi gempa besar. Namun, keunggulan itu justru menuntut kita untuk tidak lengah.

Tidak hanya relawan yang perlu siap masyarakat umum pun punya peran besar. Karena kesiapsiagaan bukan hanya soal “apa yang dilakukan saat gempa besar”, tapi apa yang kita lakukan setiap hari, termasuk memahami lingkungan kita, berbagi informasi benar, dan mendukung satu sama lain.


Semangat kerelawanan bukan hanya di garis depan bencanan tapi juga di hari-hari biasa saat kita menanamkan kesadaran bahwa setiap wilayah punya risiko unik, dan setiap orang punya peran untuk membuatnya lebih aman.


Penulis: Siti Fauziyah Handayani Editor: Firda Aulia Ramadanti