Rabu Sore yang Menyentuh Sanubari

Lokasi pondok Dzurrotul Quran ini terletak diantara perumahan elit daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Pondok tahfidz yang sederhana namun begitu nyaman, tapi siapa sangka dibalik rasa kenyamanan tersebut terdapat beberapa hal persoalan latar belakang yang dialami sebagian para santri. Terpancar wajah bahagia disertai mimik keheranan para santri saat melihat para relawan, hal ini seakan mengisyaratkan bahwa jarang ada kegiatan atau tamu berkunjung di pondok tersebut. Sejak tiba hingga mengikuti serangkaian ibadah ashar para santri menatap kami dengan senyum tersipu malu.


Para santri di sini berasal dari luar kota yaitu Sukabumi, Cianjur, Pandeglang, dan Banten.  Ketika mengobrolan dengan umi selaku istri dari ustad ahmad pemilik pondok. Tak disangka dibalik keceriaan dan semangat dalam menghafal Quran, para santri memiliki persoalan latar belakang yang berbeda-beda.


Umi menyampaikan bahwa,”hampir kebanyakan latar belakang persoalan para santri yaitu broken home, orang tua menjadi tki/tkw dan persoalan ekonomi serta putus sekolah”. Namun, semua itu justru menjadikan para santri semakin semangat menuntut ilmu pendidikan formal dan menjadi penghafal Quran.


Kemudian terkait pondok, umi pun menyampaikan bahwa pondok tahfidz ini berdiri di lahan sewa yang terbatas sehingga membatasi penerimaan santri baru,”bukannya tidak ingin menerima, khawatir kami dzolim karena kurangnya kenyamanan para santri jika terlalu banyak melebihi kapasitas pondok”. Sebab bangunan asrama laki-laki tidak besar dan hanya cukup untuk menyimpan lemari mereka, sehingga para santri laki-laki tidur seadanya di mushola dan teras asrama.  Berkaitan dengan kebutuhan operational pondok, hanya dari para donatur perorangan karena belum  adanya kerjasama dengan pihak pemerintah/swasta.


Dibalik keserhanaan dan keterbatasan pondok, tidak menjadi penghalang/penghambat para santri untuk menghafal Quran. Sebab beberapa santri telah tamat dan lulus mendapatkan syahadah dari seorang Syekh yang bersanad di daerah Jawa (tepatnya saya lupa).


Terima kasih ICM untuk kolaborasi kebaikan ini, tidak hanya THR, 86 santri akhirnya bisa merasakan buka puasa bersama. hal yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.